Kisah Inspiratif "Aku, Zoom dan Tuhan"
AKU, ZOOM, DAN DO’A
Hari ini sudah petang, bulan mulai menyambutku, menampakkan wajah putihnya didepanku yang terdiam seorang diri di ayunan depan kamar kosku. Mataku tertuju pada saluran air dekat tangga yang berjarak 4 meter dari tempatku. Tubuhku merasa ingin mengambil air itu dan membasuhku untuk segera melaksanakan shalat maghrib. Kuambil air wudhu dan segera aku mengambil mukena yang menggantung di almari. Selalu aku berdo’a pada Tuhan agar selalu menjaga seluruh keluargaku, memberiku sedikit kemudahan untuk kuliahku, dan selalu berdoa untuk tidak memberikan kesulitan pada keluargaku. Aku adalah mahasiswa akhir yang sekarag sedang menempuh pendidikan di salah satu Universittas ternama di Indonesia. Aku tidak terlalu pandai atau mudah memahami sesuatu, karna dulu aku masuk di Jurusanku karena harus dipindah akibat buta warnaku. Impianku dulu adalah seorang dokter, karna aku sangat menyukai dunia kesehatan. Namun, buta warna yang kumiliki membuatku pindah jurusan yang aku sama sekali tidak paham tentang itu. Bahkan sampai sekarang aku masih merasa bahwa aku tidak begitu cocok dengan jurusanku. Berkat doa dan motivasi dari orang tua, aku tetap bertahan dan belajar dengan cukup baik. Aku menjalani hari hari perkuliahan seperti biasanya. Berbaur dengan banyak teman, mengikuti organisasi, seperti mahasiswa pada umumnya. Aku juga tegolong orang yang termasuk dalam ekonomi menengah kebawah, karena uang untuk ku membayar kuliah diperoleh dari haril panen padi dan jagung.
Keluargaku memang keluarga yang menengah kebawah, tapi ibu dan ayah tiriku merupakan orang yang penyabar dan selalu mengajarkanku arti bersyukur. Senyum ayahku selalu hadir ketika aku pulang kuliah, bahkan kettika aku sedang termenung dengan keadaan perkuliahanku, ayahku selalu mengatakan padaku “Jika kamu kesulitan, ayah siap membantu, apakah ada yang kau fikirkan?”. Mendengar pertanyaan ayah rasanya aku ingin bercerita banyak hal yang membuatku terkadang muak dengan keadaan. Tak kuasa aku melihat ayahku khawatir, jadi aku hanya mengeluh tentang sudah mulai dewasa umurku, ternyata mulai mengerti akan kebutuhan hidup.
“Setelah aku mulai perkuliahan, aku mulai mengerti tentang banyaknya kebutuhan yah”.
Ayahku hanya tersenyum dan mulai memukulku, “kamu itu bagaimana to? Namanya juga kuliah. Ayah tau rasanya walaupun ayah hanya lulus SD. Bilang aja kalau kamu butuh sesuatu, bahkan ayah menguap pun bisa mengeluarkan uang untuk mencukupimu.”.
Mendengar kata kata itu rasanya agak sesak, karena sering kulihat ayahku melamun didepan rumah, memikirkan tentang panennya yang yang kunjung baik, menunggu hujan yang tak kunjung hujan. Semua keadaan yang sedikit menyesak kan itu membuatku sedih, aku tahu ayahku menahan sakit iru sendiri, sedih itu sendiri dan bahkan mungkin ayahku memikirkan semua beban itu sendiri. Semua yang kulihat itu, kusimpan dan kubuat untuk berjanji pada diri sendiri bahwa aku tidak akan selalu meminta uang jajan dan aku akan berusaha keras. Tidak seharusnya aku bersedih untuk kuliahku, jadi aku harus semangat.
Semangat itu selalu muncul dikepalaku, terngiang ngiang setiap hari hingga isi kepalaku seperti speaker berjalan. Aku mencoba untuk bekerja dengan mengajar ekstrakurikuler di SMP N 1 Karangawen dan SMP N 21 Semarang. Aku menyukainya karena berhubungan dengan bidang yang kusukai yaitu PMI (Palang Merah Indonesia). Ku coba untuk mencari tambahan pekerjaan dengan bekerja paruh waktu, mengajar les, dan mendaftar beasiswa. Sudah lebih dari 20 beasiswa kucoba setiap bulannya, setiap semester bahkan setiap tahunnya, namun selalu tidak lolos. Segala persyaratan ku penuhi, bahkan lomba-lomba kuikuti untuk membantuku berprestasi dan menambah poinku dalam mendaftar beasiswa, tapi selalu gagal. Seakan-akan semua kejuaraanku sia-sia, itu hanya secarik kertas dengan tulisan sertifikat juara. Walaupun kejuaraan yang kuraih tingkat nasional, provinsi ataupun kota, semuanya tidak berguna.
“Ingat!! Selalu yakin dan jangan menyerah karna aku keren! Tuhan punya rencana yang indah untuk ku!!”(lidahku tiba tiba mengucapkan hal itu saat air mataku sudah membasahi pipiku).
Hari ini adalah hari pengumuman lolos administrasi beasiswa yang kucoba ke 21 kalinya. Tanganku gemetar memegang Hp, takut jika aku gagal lagi. Aku menyuruh kakak ku untuk membukanya karena aku tidak berani melihatnya. Aku tidak siap untuk menerima kegagalan kembali.
“Mana dek ngga ada namamu?” sahutnya.
“Coba cek lagi, kalau emang ngga ada yaudah mas, memang belum rejekinya. Saya sudah biasa ditolak seperti ini”. (Aku memalingkan wajahku untuk mengalihkan sudut pandangku ke Tv yang sedang menyala agar aku tidak terlalu berat hati. )
Tiba-tiba kakak ku memukul kepalaku dan memperlihatkan layar Hpnya. “Dek namamu Tri Munawaroh kan? Ini ada namanu, Tri Munawaroh, Universitas Diponegoro Semarang, kamu lolos administrasi dek!!”
“Beneran? Eh iya mas ada namaku, alhamdulillah” (melihat tabel nama peserta yang lolos).
“Apa salah tulis nama ya Dek, jangan jangan bukan nama kamu ini? Tri Munawaroh yang lain po ya? Hahaha” (ajaknya bercanda).
Aku bahagia saat itu, walaupun hanya lolos administrasi, tapi bahagiaku luar biasa. Batu loncatan sudah kulewati sedikit demi sedikit, aku harus lebih semangat lagi karena masih harus wawancara. Bersamaan dengan saat itu, aku juga mendengar berita yang membuatku terkejut. Kudengar dari suara dalam tv, bahwa Indonesia mulai panik dengan keadaan karena terdapat beberapa orang terkena wabah Covid-19. Kupikir virus ini tak akan sampai di Indonesia, ternyata perlahan mulai muncul. Kuharap Indonesia mampu menanganinya, karena bagiku, virus ini berbahaya bagi populasi manusia.
Waktu berjalan, hari berganti hari dan Negara mulai panik dengan virus ini. Jumlah korban kian hari kian naik, jumlah korban meninggal bahkan saat ini sudah mencapai hampir seratus. Sejenak aku melupakan penderitaanku yang lalu dan mulai berfikir apa yang dapat kulakukan untuk membantu. Penerapan social distancing dan pengubahan metode belajar menjadi sistem online mulai dilakukan. Aku sedikit khawatir dengan keadaan yang menimpaku, bagaimana nasib orang tuaku, orang-orang yang bekerja jika keadaannya seperti ini. Kegiatan penyemprotan disinfectan dan berkontribusi dengan PMI untuk membantu meminimalisir yang dapat kulakukan. Donasi dengan sedikit apa yang kumiliki menjadi prioritas utama saat ini. Bagi mahasiswa semester akhir sepertiku mulai merasakan dampaknya, penelitian, birokrasi perkuliahan sedikit terhambat. Mungkih tak hanya aku yang merasakan, namun juga orang lain.
Aku bersabar dan berusaha untuk mendoakan yang terbaik untuk kebijakan pemerintah. Ditengah wabah yang merajalela membuatku untuk membantu membagikan APD dan mengikuti kegiatan sosial. Hingga hari itu aku sedang melakukan penyemprotan bersama PMI markas Kota Semarang, sore itu dering Hp ku berbunyi dan terjadwalkan pengumuman wawancara beasiswaku fikiranku semprawut saat itu. Panik, lelah, bahagia, kecewa, takut, khawatir bercampur menjadi satu.
“Kenapa aku mendapatkan kesempatan disaat seperti ini?”(tanyaku).
Aku berkemas untuk segera pulang dan memberitahu orang tuaku. Keesokan harinya adalah hari aku akan wawancara. Wawancara yang diubah menjadi sistem onlne yaitu bertatap muka melalui aplikasi Meeting Zoom. Waktu itu adalah giliranku yang terakhir. Aku sudah menyiapkan segalanya, aku sudah berdandan, menyiapkan berkas berkas yang mungkin akan ditanyakan. Bahkan aku sudah bersiap dari pagi hingga sore, padahal jadwal wawancaraku baru akan dimulai sorenya. Pagi hari aku membantu ibuku untuk menjemur jagung, sembari aku bersiap diri aku membantu ibuku. Saat waktu mulai sore, lampu kamarku kunyalakan, laptop kupasang diatas meja yang kususun dari bantal. Sinyal rumahku lumayan buruk karena ruahku berada di pedesaan, jadi harus mencari tempat yang benar-benar ada sinyal. Tepat 15 menit sebelum aku akan mulai wawancara, tiba-tiba hujan, rintik air hujan mullai bergema pada genting rumahku, dan aku khawatir jika hujan turun maka sinyalku akan menghilang bersama hujan. Aku tetap menyalakan data ponselku dan berdoa semoga hujannya berhenti.
“Lancarkanlah hari ini Tuhan, semoga hujannya berhenti”
Ibuku mengintip dari jendela dan memberiku senyuman tipis untuk menghiburku, rasa berdebar menjadi alarm waktuku. Tuhan mengabulkan do’aku sehingga hujannya berhenti. Betapa senangnya aku saat itu, namun hal itu tidak berjalan mulus.
“Klek” (Lampu kamarku mati).
Aku berlari menuju pintu kamarku dan berteriak “Eh... mak.. pak... listriknya apa mati?”
Ayahku langsung berlari menuju kamarku dan mengecek lampu kamarku. Ternyata benar, karena hujan listrik rumah kami menjadi padam.
“apa Ayah punya senter?”
Ayahku mengangguk dan membantuku mencari senter sebagai penerangan wawancaraku. Tidak mungkin aku wawancara dalam keadaan gelap gulita tanpa cahaya. Senter kupasang depan laptopku yang menyala, Hp ku kutaruh depan laptopku yang kujadikan penyangga. Semua persiapan dibutuhkan secara mendadak, dan akupun memulai untuk mencoba zoom di menit-menit terakhir. Untung saja cukup waktunya, hingga wawancaraku benar benar dimulai. Aplikasi Zoom yang kugunakan benar-benar baru kucoba dan aku bahkan masih kurang tahu bagaimana cara menggunakannya. Perasaan gugup dan khawatir yang terlintas dalam gerak tubuhku. Kucoba melakukan yang terbaik untuk wawancaraku kali ini karna ini adalah kesempatanku!
Akhirnya perasaanku lega karena wawancaraku telah selesai juga, tinggal menunggu hasil. Aku melakukan kegiatan harian seperti biasanya, karena kondisi saat ini masih belum memungkinkan untuk keluar. Aku membantu ibu dan ayahku ke Sawah, membantu menjemur padi dan jagung, membantu PMI untuk menyemprot disinfectan dan membagikan logistik. Semua hal kulakukan seperti tidak ada waktu yang harus kusia siakan dengan kondisiku yang sekarang. Selama aku masih memiliki tangan untuk bergerak, kaki untuk berjalan, aku akan berusaha untuk membantu dan bermanfaat bagi orang lain. Aku percaya bahwa keringatku tidak sebanyak orang lain disekitarku, luka tubuhku mungkin tidak sebanyak di tubuh orang lain. Bahkan aku percaya, jika suatu saat aku membantu orang lain, Tuhan akan membalas dengan hal indah yang tidak akan kira duga. Hingga suatu keajaiban terjadi, hujan datang bersamaan dengan rasa panik keluargaku. Padi dan jagung yang dijemur dikeroyok oleh hujan, membuat kami semua panik. Kami berlari dengan cepatnya untuk menutup padi dan jagung agar tidak terlalu basah. Kuambil tlasar untuk menutupnya bersama ibuku. Baju kami basah terguyur hujan, kami tidak memikirkan bagaimana kesehatan kami karena bagi kami, hasil panen yang lebih utama.
“Akhirnya selesai juga”(ucapku sambil meneduh).
“Drrt.. drrrttt... drrtt” (suara getar Hpku).
Aku lupa jika tadi aku masih mengantongi Hp ku saat kehujanan menutup padi dan jagung. Kunyalakan layar hapeku dan aku tersentak melihat notifikasi dilayar hapeku. Tertuliskan sebuah ucapan selamatt bahwa aku lolos dan aku berhasil mendapatkan beasiswa. Namaku tertulis jelas dengan tambahan ucapan selamat pada layar hapeku yang masih basah terkena air. Aku menangis dan melompat kegirangan sambil memeluk erat ayahku dan ibuku. Do’a- do’a yang kuucapkan terjawab oleh Tuhan, semua penolakanku terjawabkan. Sekarang aku dapat membantu orang tuaku walaupun sedikit. Akhirnya Tuhan, tak hentinya aku bersyukur dengan hadiah yang Kau beri. Hari itu aku mengenal baik sebuah ucapan yang selama ini kupercaya. “Ingat!! Selalu yakin dan jangan menyerah karna aku keren! Tuhan punya rencana yang indah untuk ku!!”. Semoga orang lain juga merasakan rencana yang indah dari Tuhan ditengah wabah ini. Amin.
Hari ini sudah petang, bulan mulai menyambutku, menampakkan wajah putihnya didepanku yang terdiam seorang diri di ayunan depan kamar kosku. Mataku tertuju pada saluran air dekat tangga yang berjarak 4 meter dari tempatku. Tubuhku merasa ingin mengambil air itu dan membasuhku untuk segera melaksanakan shalat maghrib. Kuambil air wudhu dan segera aku mengambil mukena yang menggantung di almari. Selalu aku berdo’a pada Tuhan agar selalu menjaga seluruh keluargaku, memberiku sedikit kemudahan untuk kuliahku, dan selalu berdoa untuk tidak memberikan kesulitan pada keluargaku. Aku adalah mahasiswa akhir yang sekarag sedang menempuh pendidikan di salah satu Universittas ternama di Indonesia. Aku tidak terlalu pandai atau mudah memahami sesuatu, karna dulu aku masuk di Jurusanku karena harus dipindah akibat buta warnaku. Impianku dulu adalah seorang dokter, karna aku sangat menyukai dunia kesehatan. Namun, buta warna yang kumiliki membuatku pindah jurusan yang aku sama sekali tidak paham tentang itu. Bahkan sampai sekarang aku masih merasa bahwa aku tidak begitu cocok dengan jurusanku. Berkat doa dan motivasi dari orang tua, aku tetap bertahan dan belajar dengan cukup baik. Aku menjalani hari hari perkuliahan seperti biasanya. Berbaur dengan banyak teman, mengikuti organisasi, seperti mahasiswa pada umumnya. Aku juga tegolong orang yang termasuk dalam ekonomi menengah kebawah, karena uang untuk ku membayar kuliah diperoleh dari haril panen padi dan jagung.
Keluargaku memang keluarga yang menengah kebawah, tapi ibu dan ayah tiriku merupakan orang yang penyabar dan selalu mengajarkanku arti bersyukur. Senyum ayahku selalu hadir ketika aku pulang kuliah, bahkan kettika aku sedang termenung dengan keadaan perkuliahanku, ayahku selalu mengatakan padaku “Jika kamu kesulitan, ayah siap membantu, apakah ada yang kau fikirkan?”. Mendengar pertanyaan ayah rasanya aku ingin bercerita banyak hal yang membuatku terkadang muak dengan keadaan. Tak kuasa aku melihat ayahku khawatir, jadi aku hanya mengeluh tentang sudah mulai dewasa umurku, ternyata mulai mengerti akan kebutuhan hidup.
“Setelah aku mulai perkuliahan, aku mulai mengerti tentang banyaknya kebutuhan yah”.
Ayahku hanya tersenyum dan mulai memukulku, “kamu itu bagaimana to? Namanya juga kuliah. Ayah tau rasanya walaupun ayah hanya lulus SD. Bilang aja kalau kamu butuh sesuatu, bahkan ayah menguap pun bisa mengeluarkan uang untuk mencukupimu.”.
Mendengar kata kata itu rasanya agak sesak, karena sering kulihat ayahku melamun didepan rumah, memikirkan tentang panennya yang yang kunjung baik, menunggu hujan yang tak kunjung hujan. Semua keadaan yang sedikit menyesak kan itu membuatku sedih, aku tahu ayahku menahan sakit iru sendiri, sedih itu sendiri dan bahkan mungkin ayahku memikirkan semua beban itu sendiri. Semua yang kulihat itu, kusimpan dan kubuat untuk berjanji pada diri sendiri bahwa aku tidak akan selalu meminta uang jajan dan aku akan berusaha keras. Tidak seharusnya aku bersedih untuk kuliahku, jadi aku harus semangat.
Semangat itu selalu muncul dikepalaku, terngiang ngiang setiap hari hingga isi kepalaku seperti speaker berjalan. Aku mencoba untuk bekerja dengan mengajar ekstrakurikuler di SMP N 1 Karangawen dan SMP N 21 Semarang. Aku menyukainya karena berhubungan dengan bidang yang kusukai yaitu PMI (Palang Merah Indonesia). Ku coba untuk mencari tambahan pekerjaan dengan bekerja paruh waktu, mengajar les, dan mendaftar beasiswa. Sudah lebih dari 20 beasiswa kucoba setiap bulannya, setiap semester bahkan setiap tahunnya, namun selalu tidak lolos. Segala persyaratan ku penuhi, bahkan lomba-lomba kuikuti untuk membantuku berprestasi dan menambah poinku dalam mendaftar beasiswa, tapi selalu gagal. Seakan-akan semua kejuaraanku sia-sia, itu hanya secarik kertas dengan tulisan sertifikat juara. Walaupun kejuaraan yang kuraih tingkat nasional, provinsi ataupun kota, semuanya tidak berguna.
“Ingat!! Selalu yakin dan jangan menyerah karna aku keren! Tuhan punya rencana yang indah untuk ku!!”(lidahku tiba tiba mengucapkan hal itu saat air mataku sudah membasahi pipiku).
Hari ini adalah hari pengumuman lolos administrasi beasiswa yang kucoba ke 21 kalinya. Tanganku gemetar memegang Hp, takut jika aku gagal lagi. Aku menyuruh kakak ku untuk membukanya karena aku tidak berani melihatnya. Aku tidak siap untuk menerima kegagalan kembali.
“Mana dek ngga ada namamu?” sahutnya.
“Coba cek lagi, kalau emang ngga ada yaudah mas, memang belum rejekinya. Saya sudah biasa ditolak seperti ini”. (Aku memalingkan wajahku untuk mengalihkan sudut pandangku ke Tv yang sedang menyala agar aku tidak terlalu berat hati. )
Tiba-tiba kakak ku memukul kepalaku dan memperlihatkan layar Hpnya. “Dek namamu Tri Munawaroh kan? Ini ada namanu, Tri Munawaroh, Universitas Diponegoro Semarang, kamu lolos administrasi dek!!”
“Beneran? Eh iya mas ada namaku, alhamdulillah” (melihat tabel nama peserta yang lolos).
“Apa salah tulis nama ya Dek, jangan jangan bukan nama kamu ini? Tri Munawaroh yang lain po ya? Hahaha” (ajaknya bercanda).
Aku bahagia saat itu, walaupun hanya lolos administrasi, tapi bahagiaku luar biasa. Batu loncatan sudah kulewati sedikit demi sedikit, aku harus lebih semangat lagi karena masih harus wawancara. Bersamaan dengan saat itu, aku juga mendengar berita yang membuatku terkejut. Kudengar dari suara dalam tv, bahwa Indonesia mulai panik dengan keadaan karena terdapat beberapa orang terkena wabah Covid-19. Kupikir virus ini tak akan sampai di Indonesia, ternyata perlahan mulai muncul. Kuharap Indonesia mampu menanganinya, karena bagiku, virus ini berbahaya bagi populasi manusia.
Waktu berjalan, hari berganti hari dan Negara mulai panik dengan virus ini. Jumlah korban kian hari kian naik, jumlah korban meninggal bahkan saat ini sudah mencapai hampir seratus. Sejenak aku melupakan penderitaanku yang lalu dan mulai berfikir apa yang dapat kulakukan untuk membantu. Penerapan social distancing dan pengubahan metode belajar menjadi sistem online mulai dilakukan. Aku sedikit khawatir dengan keadaan yang menimpaku, bagaimana nasib orang tuaku, orang-orang yang bekerja jika keadaannya seperti ini. Kegiatan penyemprotan disinfectan dan berkontribusi dengan PMI untuk membantu meminimalisir yang dapat kulakukan. Donasi dengan sedikit apa yang kumiliki menjadi prioritas utama saat ini. Bagi mahasiswa semester akhir sepertiku mulai merasakan dampaknya, penelitian, birokrasi perkuliahan sedikit terhambat. Mungkih tak hanya aku yang merasakan, namun juga orang lain.
Aku bersabar dan berusaha untuk mendoakan yang terbaik untuk kebijakan pemerintah. Ditengah wabah yang merajalela membuatku untuk membantu membagikan APD dan mengikuti kegiatan sosial. Hingga hari itu aku sedang melakukan penyemprotan bersama PMI markas Kota Semarang, sore itu dering Hp ku berbunyi dan terjadwalkan pengumuman wawancara beasiswaku fikiranku semprawut saat itu. Panik, lelah, bahagia, kecewa, takut, khawatir bercampur menjadi satu.
“Kenapa aku mendapatkan kesempatan disaat seperti ini?”(tanyaku).
Aku berkemas untuk segera pulang dan memberitahu orang tuaku. Keesokan harinya adalah hari aku akan wawancara. Wawancara yang diubah menjadi sistem onlne yaitu bertatap muka melalui aplikasi Meeting Zoom. Waktu itu adalah giliranku yang terakhir. Aku sudah menyiapkan segalanya, aku sudah berdandan, menyiapkan berkas berkas yang mungkin akan ditanyakan. Bahkan aku sudah bersiap dari pagi hingga sore, padahal jadwal wawancaraku baru akan dimulai sorenya. Pagi hari aku membantu ibuku untuk menjemur jagung, sembari aku bersiap diri aku membantu ibuku. Saat waktu mulai sore, lampu kamarku kunyalakan, laptop kupasang diatas meja yang kususun dari bantal. Sinyal rumahku lumayan buruk karena ruahku berada di pedesaan, jadi harus mencari tempat yang benar-benar ada sinyal. Tepat 15 menit sebelum aku akan mulai wawancara, tiba-tiba hujan, rintik air hujan mullai bergema pada genting rumahku, dan aku khawatir jika hujan turun maka sinyalku akan menghilang bersama hujan. Aku tetap menyalakan data ponselku dan berdoa semoga hujannya berhenti.
“Lancarkanlah hari ini Tuhan, semoga hujannya berhenti”
Ibuku mengintip dari jendela dan memberiku senyuman tipis untuk menghiburku, rasa berdebar menjadi alarm waktuku. Tuhan mengabulkan do’aku sehingga hujannya berhenti. Betapa senangnya aku saat itu, namun hal itu tidak berjalan mulus.
“Klek” (Lampu kamarku mati).
Aku berlari menuju pintu kamarku dan berteriak “Eh... mak.. pak... listriknya apa mati?”
Ayahku langsung berlari menuju kamarku dan mengecek lampu kamarku. Ternyata benar, karena hujan listrik rumah kami menjadi padam.
“apa Ayah punya senter?”
Ayahku mengangguk dan membantuku mencari senter sebagai penerangan wawancaraku. Tidak mungkin aku wawancara dalam keadaan gelap gulita tanpa cahaya. Senter kupasang depan laptopku yang menyala, Hp ku kutaruh depan laptopku yang kujadikan penyangga. Semua persiapan dibutuhkan secara mendadak, dan akupun memulai untuk mencoba zoom di menit-menit terakhir. Untung saja cukup waktunya, hingga wawancaraku benar benar dimulai. Aplikasi Zoom yang kugunakan benar-benar baru kucoba dan aku bahkan masih kurang tahu bagaimana cara menggunakannya. Perasaan gugup dan khawatir yang terlintas dalam gerak tubuhku. Kucoba melakukan yang terbaik untuk wawancaraku kali ini karna ini adalah kesempatanku!
Akhirnya perasaanku lega karena wawancaraku telah selesai juga, tinggal menunggu hasil. Aku melakukan kegiatan harian seperti biasanya, karena kondisi saat ini masih belum memungkinkan untuk keluar. Aku membantu ibu dan ayahku ke Sawah, membantu menjemur padi dan jagung, membantu PMI untuk menyemprot disinfectan dan membagikan logistik. Semua hal kulakukan seperti tidak ada waktu yang harus kusia siakan dengan kondisiku yang sekarang. Selama aku masih memiliki tangan untuk bergerak, kaki untuk berjalan, aku akan berusaha untuk membantu dan bermanfaat bagi orang lain. Aku percaya bahwa keringatku tidak sebanyak orang lain disekitarku, luka tubuhku mungkin tidak sebanyak di tubuh orang lain. Bahkan aku percaya, jika suatu saat aku membantu orang lain, Tuhan akan membalas dengan hal indah yang tidak akan kira duga. Hingga suatu keajaiban terjadi, hujan datang bersamaan dengan rasa panik keluargaku. Padi dan jagung yang dijemur dikeroyok oleh hujan, membuat kami semua panik. Kami berlari dengan cepatnya untuk menutup padi dan jagung agar tidak terlalu basah. Kuambil tlasar untuk menutupnya bersama ibuku. Baju kami basah terguyur hujan, kami tidak memikirkan bagaimana kesehatan kami karena bagi kami, hasil panen yang lebih utama.
“Akhirnya selesai juga”(ucapku sambil meneduh).
“Drrt.. drrrttt... drrtt” (suara getar Hpku).
Aku lupa jika tadi aku masih mengantongi Hp ku saat kehujanan menutup padi dan jagung. Kunyalakan layar hapeku dan aku tersentak melihat notifikasi dilayar hapeku. Tertuliskan sebuah ucapan selamatt bahwa aku lolos dan aku berhasil mendapatkan beasiswa. Namaku tertulis jelas dengan tambahan ucapan selamat pada layar hapeku yang masih basah terkena air. Aku menangis dan melompat kegirangan sambil memeluk erat ayahku dan ibuku. Do’a- do’a yang kuucapkan terjawab oleh Tuhan, semua penolakanku terjawabkan. Sekarang aku dapat membantu orang tuaku walaupun sedikit. Akhirnya Tuhan, tak hentinya aku bersyukur dengan hadiah yang Kau beri. Hari itu aku mengenal baik sebuah ucapan yang selama ini kupercaya. “Ingat!! Selalu yakin dan jangan menyerah karna aku keren! Tuhan punya rencana yang indah untuk ku!!”. Semoga orang lain juga merasakan rencana yang indah dari Tuhan ditengah wabah ini. Amin.
Komentar
Posting Komentar